Harga minyak mentah dunia anjlok sekitar 7 persen pada Senin (2/11) setelah laporan Axios menyebut Presiden AS Donald Trump memilih memberi diplomasi Iran lebih banyak waktu ketimbang melanjutkan serangan setelah pemilu paruh waktu AS.

Kontrak berjangka Brent turun 4,79 dolar AS atau 4,2 persen ke 108,64 dolar AS per barel pada pukul 10.20 GMT atau 17.20 WIB, menurut Reuters. Menjelang penutupan perdagangan AS, penurunan melebar hingga sekitar 7 persen: Brent diperdagangkan di kisaran 104,96 dolar AS dan WTI (West Texas Intermediate, acuan minyak AS) di 96,62 dolar AS per barel.

Menurut laporan Axios yang dikutip beberapa media, Trump menyampaikan pilihannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam panggilan telepon Sabtu lalu. Netanyahu disebut mendesak agar serangan AS terhadap Iran dilanjutkan segera setelah pemilu paruh waktu Selasa (3/11), tetapi Trump ingin perundingan diberi kesempatan lebih dulu. Axios mengutip sumber tanpa nama, sehingga klaim ini perlu dibaca sebagai laporan, bukan pernyataan resmi.

Dari sisi Iran, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei memberi pemerintah "certain authorities" atas perundingan damai, menurut media pemerintah Iran yang dikutip OilPrice. Negosiator Iran telah meninggalkan Doha setelah tiga hari pembicaraan dengan mediator Qatar, dan sebuah draf proposal kini beredar dengan kemungkinan pertemuan lanjutan, menurut pejabat yang diberi pengarahan tentang pembicaraan, dikutip Reuters.

Namun sinyalnya tidak satu arah. Menurut Bloomberg, Khamenei juga memerintahkan para komandan militer bersiap menghadapi konfrontasi baru, sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut draf itu bisa membuka kembali Selat Hormuz dalam dua hari jika AS memenuhi syarat tertentu. Analis Panmure Liberum Ashley Kelty menilai aksi jual Senin berlebihan karena AS, pihak utama dalam konflik, belum terlibat langsung dalam perundingan.

Brent menutup Oktober di level tertinggi enam bulan karena kekhawatiran konflik eskalasi setelah pemilu AS. Goldman Sachs pada Minggu menaikkan proyeksi Brent Desember ke 105 dolar AS dari 90 dolar AS, dengan premi risiko geopolitik sekitar 27 dolar AS yang menjelaskan sebagian besar reli Oktober. OPEC+ (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya) sendiri pada Minggu memutuskan menahan target produksi Desember.

Latar singkat

KabarFX sebelumnya melaporkan penurunan Brent lebih dari 1 persen saat perundingan Iran-Qatar memasuki hari ketiga: Brent Turun 1 Persen Lebih saat Perundingan Iran-Qatar Hari Ketiga.

Kenapa ini penting untuk forex

Minyak yang lebih murah meredakan tekanan inflasi di saat bank sentral menimbang langkah berikutnya. Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia, RBA) mengumumkan keputusan suku bunga hari ini pukul 10.30 WIB dengan pasar memperkirakan kenaikan ke 4,85 persen, dan inflasi energi yang melandai memberi ruang bagi RBA untuk memberi sinyal lebih dovish. Efek yang sama berlaku untuk Bank Sentral Inggris (Bank of England) yang memutuskan Kamis dan ekspektasi The Fed, bank sentral AS, yang pasar dorong ke arah pengetatan.

Di sisi sentimen risiko, penurunan harga minyak ikut mengangkat selera risiko: saham teknologi AS memantul dan kontrak berjangka indeks menguat. Mata uang komoditas seperti dolar Australia dan dolar Kanada sensitif terhadap arah harga energi, sementara dolar AS bisa melemah jika pasar kembali memburu aset berisiko. Namun nuansanya penting: analis memperingatkan penurunan ini bisa berlebihan, dan jendela serangan baru setelah pemilu tetap terbuka, sehingga volatilitas belum selesai.

Yang dipantau

  • Keputusan suku bunga RBA, Selasa (3/11) pukul 10.30 WIB; pasar memperkirakan kenaikan ke 4,85 persen.
  • Pemungutan suara pemilu paruh waktu AS, Selasa (3/11); pasar mewaspadai retorika serangan Iran pascapemilu.
  • Laporan ketenagakerjaan AS (nonfarm payrolls) Oktober, Jumat (6/11) pukul 20.30 WIB.
  • Pertemuan OPEC+, 29 November.

Sumber