Dolar AS melemah pada Senin (2/11) ketika anjloknya harga minyak dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS memangkas daya tarik mata uang AS, menjelang pemilu sela pada Selasa (3/11) dan serangkaian keputusan bank sentral pekan ini.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang termasuk euro dan yen, turun 0,22 persen ke 101,76 pada penutupan Senin, menurut laporan Reuters. Indeks sempat menyentuh 101,42, level terendah sejak 30 September, ketika investor melepas dolar menjelang pekan yang padat agenda.
Euro menguat sekitar 0,3 persen ke 1,1191 dolar AS, menjauhi titik terendah 17 bulan yang dicapai pekan lalu. Pound sterling naik 0,1 persen ke 1,3406 dolar AS, sementara dolar terhadap yen bertahan di kisaran 157,89.
Pemicu pelemahan dolar adalah anjloknya harga minyak. Minyak mentah merosot sekitar 7 persen setelah Iran dan Qatar menggelar perundingan hari ketiga di Doha, memupuk harapan berkurangnya gangguan pasokan Timur Tengah. Menurut laporan Axios, Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa ia memilih memberi waktu lebih lama bagi diplomasi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi pada Sabtu (1/11) bahwa belum ada keputusan soal serangan baru. Kontrak berjangka minyak mentah AS (WTI) untuk Desember jatuh ke bawah 100 dolar AS per barel.
Wall Street terbelah. Indeks Dow Jones naik 0,41 persen ke 51.983,98, tetapi S&P 500 turun 0,51 persen ke 7.541,40 dan Nasdaq Composite merosot 1,07 persen ke 25.164,32. Saham teknologi kembali tertekan: Oracle anjlok lebih dari 8 persen setelah mengumumkan rencana pendanaan kecerdasan buatan senilai 20 miliar dolar AS, menurut Reuters, dan Apple turun sekitar 2 persen menjelang laporan keuangannya. Emas spot naik 1,48 persen ke 3.956,50 dolar AS per troy ons, tetapi tetap berada di bawah 4.000 dolar AS.
Kenapa ini penting untuk forex
Kombinasi minyak yang lebih murah dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang turun 3,5 basis poin ke 4,894 persen menggerus dua pilar pendukung dolar: ekspektasi inflasi dari harga energi dan premi imbal hasil AS atas mata uang lain. Ketika tekanan inflasi diperkirakan mereda, pasar bisa memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (bank sentral AS) pada Desember, dan dolar kehilangan daya tarik bunganya. Itulah jalur penularan utama pergerakan Senin ke pasar valuta asing.
Untuk euro, rebound ini perlu dibaca dengan hati-hati: penguatannya terjadi justru setelah lembaga pemeringkat Fitch mengubah prospek kredit Prancis menjadi negatif, yang berarti pelemahan dolar, bukan kekuatan euro, yang mendominasi pergerakan. Sementara itu, dolar terhadap yen yang tertahan di bawah 158 menunjukkan pasar masih menimbang risiko intervensi Jepang setelah Menteri Keuangan Jepang memperingatkan kemungkinan intervensi atas yen yang lemah.
Sentimen risiko juga tetap rapuh: pemilu sela AS hari ini membuat investor enggan mengambil posisi besar, sehingga arah pergerakan bisa berbalik cepat begitu hasil pemilu mulai keluar.
Yang dipantau
- Pemilu sela AS hari ini, Selasa (3/11); hasil awal diperkirakan keluar Rabu pagi WIB.
- Keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) hari ini sekitar pukul 10.30 WIB; 31 dari 32 ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan kenaikan 25 basis poin ke 4,85 persen.
- Data inflasi kilat zona euro dan survei jasa ISM AS pada Rabu (4/11), serta laporan pasar tenaga kerja AS yang dirilis pekan ini.
- Pertemuan Bank of England pada Kamis (6/11); pasar memperkirakan kenaikan suku bunga ke 4 persen.
Sumber
- Reuters: Dollar falls ahead of US midterms as oil plummets
- Edge Consultancy: US Market Wrap 2 November
- Dow Jones via Morningstar: Stock Futures Higher, Oil Lower as Investors Return to Risk
- Finimize: Dollar Slips As Oil Drops, Big Week Looms
- investingLive: Economic and event calendar in Asia 03 November 2026
