Wall Street Journal melaporkan pada Senin (2/11) waktu AS bahwa Amerika Serikat menyerang Pulau Qeshm di Iran, mengutip sejumlah pejabat AS. Kabar itu mengangkat harga minyak pada perdagangan Asia, Selasa (3/11), setelah anjlok lebih dari 7 persen sehari sebelumnya.
Serangan itu mengikuti beberapa ledakan di pulau di Selat Hormuz itu, menurut kantor berita resmi Iran IRNA. Pejabat AS yang dikutip Wall Street Journal menyebut serangan bersifat defensif untuk mencegah Iran menyerang kapal dagang di selat itu.
Menurut laporan itu, serangan ini bagian dari rangkaian serangan terbatas Washington dalam beberapa pekan terakhir; Komando Pusat militer AS belum memberikan komentar.
Minyak mentah Brent naik 48 sen atau 0,5 persen ke 105,25 dolar AS per barel pada pukul 01.04 GMT atau 08.04 WIB, menurut laporan Reuters. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 47 sen atau 0,5 persen ke 96,93 dolar AS per barel. Pada Senin, Brent ditutup turun 8,66 dolar AS atau 7,63 persen ke 104,77 dolar AS per barel, penurunan harian tertajam sejak Juli.
Laporan ini muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin meragukan rencana melanjutkan serangan militer dan menyebut kesepakatan dengan Teheran bisa terjadi. Ketika ditanya soal serangan setelah pemilu sela, Trump menjawab tidak. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut Ayatollah Mojtaba Khamenei memberi pemerintah kewenangan untuk perundingan damai.
Konfirmasi itu diperkuat pada Selasa. Sejumlah pejabat AS membenarkan serangan ke Pulau Qeshm kepada Wall Street Journal, dan menyebutnya yang terbaru dari rangkaian serangan terbatas AS dalam beberapa pekan terakhir yang tidak diumumkan ke publik.
Sebagian pejabat menyebut serangan itu defensif untuk membatasi kemampuan Iran menyerang kapal dagang di Selat Hormuz. Laporan yang sama menyebut AS telah meminta negara-negara Teluk bersiap menghadapi operasi singkat dan intensif setelah pemilu sela.
Axios melaporkan, mengutip sumber, bahwa Direktur CIA John Ratcliffe menyarankan Trump menjaga status quo sambil menekan Iran secara ekonomi. Pejabat AS menyebut Trump masih mempertimbangkan semua opsi, menurut laporan itu.
Latar singkat
Pasar sempat lega sehari sebelumnya setelah sinyal diplomasi Trump membuat minyak anjlok lebih dari 7 persen, seperti diberitakan KabarFX dalam Minyak Anjlok 7 Persen, Trump Pilih Diplomasi Iran. Laporan serangan terbaru ini membalikkan nada itu.
Kenapa ini penting untuk forex
Kanal transmisinya lewat harga energi: minyak yang kembali menguat menjaga risiko inflasi tetap tinggi, padahal pasar sempat berharap tekanan harga mereda setelah minyak anjlok Senin lalu. Inflasi energi yang bertahan bisa menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, sehingga menopang dolar AS.
Premi risiko geopolitik juga mengangkat permintaan aset aman: emas bertahan di atas 3.900 dolar AS per troy ons, dan yen Jepang serta franc Swiss cenderung diuntungkan. Sebaliknya, dolar Australia dan dolar Kanada sensitif terhadap arah harga minyak.
Yang dipantau
- Hasil pemilu sela AS, Selasa (3/11) waktu setempat; hasil awal terlihat Rabu pagi WIB.
- Suku bunga RBA (Reserve Bank of Australia, bank sentral Australia) pukul 10.30 WIB hari ini; pasar memperkirakan kenaikan ke 4,85 persen.
- Tanggapan resmi Washington dan Teheran atas laporan serangan Pulau Qeshm.
- Suku bunga Bank of England (BoE), bank sentral Inggris, Kamis (5/11).
Sumber
- US struck Iran's Qeshm Island, Wall Street Journal reports — Reuters
- Oil rises after report of US strike on Iran's Qeshm Island — Reuters
- Oil Plunges 7% as Trump Says Iran Deal "Could Happen" — Seoul Economic Daily
- More on US strikes on Qeshm: officials confirm attack as Trump plays down war risk, InvestingLive
- Iran talks stall as reported US strike and CIA advice undercut oil deal-hope drop, InvestingLive
