Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk Desember menjadi 105 dolar AS per barel, naik dari perkiraan sebelumnya 90 dolar AS. Kenaikan sekitar 17 persen ini tertuang dalam laporan riset bank investasi tersebut yang dirilis Sabtu (1/11), dengan alasan risiko gangguan pasokan global yang dinilai masih tinggi.

Apa yang berubah

Dalam laporan tersebut, Goldman Sachs juga menaikkan rata-rata proyeksi Brent untuk 2027 menjadi 88 dolar AS per barel dari 80 dolar AS. Untuk acuan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI), proyeksi Desember naik menjadi 94 dolar AS per barel dari 81 dolar AS, sementara rata-rata 2027 naik menjadi 78 dolar AS dari 73 dolar AS.

Alasannya: konflik di Timur Tengah dan antara Rusia dan Ukraina, ditambah fragmentasi geopolitik yang makin dalam, membuat risiko gangguan pasokan tetap tinggi. Goldman Sachs kini memasukkan asumsi gangguan pasokan global sebesar 1 juta barel per hari ke dalam skenario dasar 2027. Menurut laporan yang dikutip The Hindu BusinessLine, pasar memberi bobot yang makin besar pada kemungkinan eskalasi setelah pemilu sela AS pada 3 November.

Latar singkat

Proyeksi ini muncul di tengah penurunan harga minyak pada Senin (2/11), ketika Brent melemah seiring berlanjutnya perundingan Iran-Qatar dan keputusan OPEC+ mempertahankan target produksi Desember. Perkembangan harga hari ini kami bahas dalam artikel Brent Turun 1 Persen Lebih saat Perundingan Iran-Qatar Hari Ketiga.

Kenapa ini penting untuk forex

Jalur transmisinya berjalan lewat ekspektasi inflasi. Harga minyak yang bertahan tinggi menaikkan biaya energi, dan biaya energi yang tinggi mempersulit bank sentral menurunkan inflasi. Ketika ekspektasi inflasi naik, pasar cenderung menaikkan taruhan pada suku bunga, dan ekspektasi suku bunga inilah yang menggerakkan mata uang.

Penekanan Goldman Sachs pada risiko eskalasi setelah pemilu sela AS pada Selasa (3/11) membuat proyeksi ini relevan untuk sentimen risiko pekan ini. Pekan ini juga padat agenda bank sentral: Bank Sentral Australia (RBA) memutuskan suku bunga pada Selasa, Bank of England (BoE) pada Kamis, dan data tenaga kerja AS keluar Jumat. Sinyal harga energi akan ikut dibaca pasar saat menilai arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, dan bank sentral lainnya.

Pasangan mata uang yang paling terdampak adalah pasangan dolar AS, karena dolar bergerak mengikuti ekspektasi suku bunga The Fed. Mata uang negara pengimpor minyak besar juga sensitif terhadap perubahan harga energi karena memengaruhi neraca perdagangan mereka.

Yang dipantau

  • Pemilu sela AS, Selasa (3/11); hasil mulai terbaca Rabu (4/11) waktu Indonesia.
  • Keputusan suku bunga Bank Sentral Australia (RBA), Selasa (3/11).
  • Data inflasi kilat zona euro, Rabu (4/11).
  • Keputusan suku bunga Bank of England (BoE), Kamis (5/11).
  • Data tenaga kerja AS bulan Oktober, Jumat (6/11).

Sumber