Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memerintahkan angkatan bersenjata negaranya untuk siap merespons secara "segera, berdampak, dan tanpa batas geografis" jika Amerika Serikat atau Israel melancarkan serangan baru terhadap Iran. Pernyataan itu dikeluarkan Sabtu (31/10) setelah pertemuan dengan para komandan militer senior, menurut pernyataan resmi kantornya yang diliput Reuters dan Axios.
Dalam pernyataan itu, Khamenei mengatakan bahwa setiap level atau bentuk ancaman harus dijawab dengan respons yang segera, berdampak, dan tanpa batas geografis. Ia juga memerintahkan militer untuk memperbarui daftar sasaran agar mencakup seluruh jenis aset material maupun non-material milik AS dan Israel, sehingga berada dalam jangkauan angkatan bersenjata Iran.
Pertemuan tersebut dilaporkan sebagai pertemuan pertama yang diungkap ke publik antara Khamenei dan seluruh komandan militer senior Iran sejak perang dimulai pada Februari 2026. Para komandan yang hadir, menurut pernyataan itu, antara lain Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mayor Jenderal Ali Abdollahi, Panglima Angkatan Darat Mayor Jenderal Amir Hatami, dan komandan Garda Revolusi Islam Ahmad Vahidi.
Para komandan disebut melaporkan kesiapan tinggi di sepanjang pantai Teluk, di sekitar Selat Hormuz dan Teluk Oman, serta di perbatasan barat laut dan tenggara Iran. Pernyataan kantor Khamenei juga menyebut produksi amunisi dan senjata mengalami peningkatan beberapa kali lipat, tanpa disertai angka spesifik.
Diplomasi masih berjalan. Menurut laporan Reuters, utusan Iran bertemu mediator Qatar di Doha pada Sabtu untuk membahas jalan keluar perang, setelah pembicaraan maraton di Teheran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada Sabtu bahwa Presiden Donald Trump belum memutuskan apakah akan melancarkan serangan baru, dan lebih memilih jalur diplomatik.
Pernyataan Khamenei muncul menjelang pemilihan parlemen AS pada Selasa (3/11). Washington dilaporkan telah memperingatkan sekutu-sekutu Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan baru setelah pemilu, meski belum ada konfirmasi resmi dari Gedung Putih soal waktu pelaksanaan.
Kenapa ini penting untuk forex
Ketegangan geopolitik yang meningkat menggerakkan sentimen risiko di pasar mata uang. Ketika konflik membesar, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman, sehingga mata uang safe haven seperti dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss biasanya menguat. Sebaliknya, mata uang berisiko seperti dolar Australia melemah karena investor mengurangi posisi spekulatif. Selain itu, gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk mendorong harga energi naik, yang pada gilirannya memengaruhi ekspektasi inflasi dan suku bunga global, salah satu pendorong utama nilai tukar.
Sumber: Reuters, Axios, AFP, TBS News. Konten KabarFX bersifat edukasi, bukan rekomendasi atau nasihat keuangan.
