Yang terjadi pekan ini

Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga acuan di 1,25 persen lewat voting 8-1 pada Kamis, 30 Oktober 2026, sembari menaikkan proyeksi inflasi FY2027 menjadi 2,6 persen dan mempercepat penjualan ETF dari 330 miliar yen menjadi 860 miliar yen per tahun mulai Januari 2027.

Sehari sebelumnya, Federal Reserve menahan suku bunga di 3,75-4,00 persen dengan voting 10-2 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Data ekonomi AS yang keluar pekan ini: GDP kuartal III tumbuh 3,4 persen dan PCE naik 0,5 persen MoM.

Tekanan terbesar datang pada Jumat, 30 Oktober: emas spot anjlok lebih dari 3 persen dan menyentuh sekitar 3.891 dolar, level terendah sejak Oktober 2025. Perak ikut turun lebih dari 5 persen ke bawah 50 dolar. Pemicunya: dolar yang menguat ke sekitar 102 dan peluang kenaikan suku bunga Fed pada Desember yang naik menjadi sekitar 75 persen menurut CME FedWatch. Sepanjang Oktober, emas turun lebih dari 6 persen, kinerja bulanan terburuk sejak 2008.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik mengangkat minyak: serangan terhadap tanker di Selat Hormuz mendorong Brent Desember naik 1,04 persen ke 116,08 dolar dan WTI naik 1,34 persen ke 103,37 dolar.

Yang diperhatikan pekan depan

Pelaku pasar kini menatap rapat Desember. Data inflasi dan tenaga kerja AS berikutnya, serta pernyataan pejabat Fed, akan menjadi penentu apakah peluang kenaikan Desember bertahan atau memudar.

Catatan

Briefing ini adalah briefing pertama KabarFX. Isinya edukasi dan konteks pasar, bukan rekomendasi beli atau jual dan bukan ajakan transaksi. Sumber: pengumuman resmi Fed dan BoJ, Reuters/UKMTO untuk serangan tanker, dan CME FedWatch untuk peluang suku bunga.